Sabtu, 19 November 2011

Kurva Pertumbuhan Sigmoid


Selama siklus hidup, tumbuhan akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan merupakan penambahan bobot dan volume atau ukuran tumbuhan karena adanya penambahan unsur – unsur struktural yang baru. Pertumbuhan suatu organ atau tumbuhan secara keseluruhan dimulai dari perkecambahan biji dan dilanjutkan dengan memasuki fase pertumbuhan juvenile yang berakhir pada fase maturasi, selanjutnya diikuti dengan senesensi.
Pola pertumbuhan suatu organ atau tumbuhan secara keseluruhan berupa pertumbuhan sigmoid, yaitu terjadinya pertumbuhan yang lambat pada fase inisiasi yang kemudian pada fase berikutnya pertumbuhan akan semakin cepat secara eksponensial.Selanjutnya pertumbuhan akan diperlambat dan akhirnya akan mendekati konstan, sehingga akan membumbentuk kurva pertumbuhan yang menyerupai huruf “ S “.
Pertumbuhan pada tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S).menurut Franklin P Gardner (1991), Kurva sigmoid adalah pola pertumbuhan sepanjang suatu generasi secara khas dicirikan oleh suatu fungsi pertumbuhan. Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan(Tjitrosomo, 1999). Selain itu, umur daun juga dapat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman karena terkait pada tinggi rendahnya laju fotosintesis. Kemampuan daun untuk berfotosintesis meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian mulai turun, terkadang sebelum daun tersebut berkembang penuh ( fully developed). Daun yang mulai mengalami senencene akan berwarna kuning dan hilang kemampuannya untuk berfotosintesis karena perombakan klorofil dan hilangnya fungsi kloroplas(Benyamin Lakitan,1995).
Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Sitompul dan Guritno, 1995).
Grafik hubungan antara panjang daun dengan waktu pengamatan (umur) daun.
Menurut Dwidjoseputro (1986), Pertumbuhan berlangsung terbatas pada beberapa bagian tertentu, yang terdiri dari sejumlah sel yang baru saja  dimana hal tersebut melalui proses pembelahan sel di meristem. Pertumbuhan (menurut batas diatas, yaitu pertambahan ukuran) yang dirancukan dengan pembelahan sel dimeristem. Pembelahan sel itu sendiri tidak menyebabkan pertambahan ukuran, namun produk pembelahan sel itulah yang tumbuh dan menyebabkan pertumbuhan. Ujung akar dan ujung tajuk (apeks) mempunyai meristem Dan ada pula yang mengatakan bahwa Pertumbuhan merupakan kenaikan dalam bahan tanaman, adalah proses total yang mengubah bahan-bahan mentah ini secara kimia dan menambahkannya pada tanaman (Goldsworthy dan Fisher, 1992).
Tumbuhan akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masih dalam fase hidup. Perkembangan tumbuhan sangat beragam, seperti halnya perkembangan pada daun yang memiliki ragam bentuk. Pengembangan kearah luar terus terjadi melalui pembelahan, baik periklinal maupun antiklinal, pada ujung primordial (aspek / ujung distal). Lalu ketika daun kira – kira berukuran 1mm, aktifitas meristematik mulai terjadi diseluruh bagian memanjangnya. Pada daun tumbuhan dikotil, sebagianbesar pembelahan sel sudah lama berhenti sebelum daun berkembang penuh, sering kali ketika daun mencapai kurang dari separuh ukuran akhirnya. Pada fase logaritmik, ukuran (V) bertambah secara eksponensial sesuai dengan waktu (t), yang berarti laju pertumbuhan  awalnya berjalan lambat, tapi kemudian terus meningkat, pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu. Laju pertumbuhan yang konstan ditunjukan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas tinggi kurva tanaman dan oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh di bagian bawah, dan pada fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang tetap atau bahkan menurun saat pertumbuhan sudah mencapai kematangan konstan (Dwidjoseputro. 1986).
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa panjang daun tanaman Jawer Kotok mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, dari rata-rata 2.6cm menjadi 3.1 cm, kemudian 3.5 cm lalu 4.5 cm, 5.3cm, hingga 7.5 cm dan mencapai konstan pada 7.6 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik. kurva menunujukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Fase logaritmik berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus hingga konstan. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linear dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus, laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Pada fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Srigandono,1991).
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pertumbuhan Jawer Kotok . jika digambarkan dalam grafik akan membentuk kurva sigmoid (bentuk S). Kurva ini menggambarkan baik pertumbuhan daun, dalam bentuk sigmoid. dimana menyatakan pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-berangsur menjadi lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik dalam waktu tertentu akan terbentuk kurva sigmoid yang bentuk nya menyerupai S (Tjitrosomo,1991).
Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991) Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa Fase logaritmik, yaitu dimana ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross 1992).
Laju asimiliasi bersih ( net assimilation rate, NAR).NAR ini paling tinggi nilainya pada saat tumbuhan masih kecil dan sebgian besar daunnya terkena sinar matahari langsung. Dalam tajuk yang NAR nya tinggi, daun yang muda (pucuk daun) pada puncak pohon mnyerap radiasi paling banyak, memiliki laju asimilasi CO2 yang tinggi dan mentranslokasikan sejumlah besar hasil asimilasi ke bagian tumbuhan yang lain. Sebaliknya, daun-daun yang lebih tua pada dasat tajuk dan terlindung memiliki laju asimilasi CO2 yang rendah dan memberikan sedikit hasil asimilasi kepada bagian tumbuhan yang lain( Franklin P. Gardner et all,1991).




Berikut adalah gambar pertumbuhan daun Jawer kotok yang telah mencapai konstan:
           Daun A                                                Daun B                                   Daun C


DAFTAR PUSTAKA


Dwidjoseputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Frank B Salisbury dan Cleon W Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan, jilid 3. ITB, Bandung.
Lakitan, Benyamin. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tjitrosomo, G. 1999. Botani umum 2. Angkasa : Bandung.
Sitompul, S.M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Goldsworthy, P.R dan N.M. Fisher, 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Gradner P. Franklin,et all.1991.Fisiologi Tanaman Budidaya.Jakarta.Universitas Indonsia press.
Srigandono, B. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Susilo, W. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Uuniversitas Indonesia, Jakarta
www.IPTEK.com(senin, Mei 25.2009 pukul 5:20:04)
 www.wikipedia.com (senin,25 mei 2009)








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar