Sabtu, 19 November 2011

TRANSPIRASI




Air merupakan salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi yang tergantung dari kecepatan proses masuknya air kedalam  tubuh tumbuhan, kecepatan penggunaan air, dan kecepatan hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan atau uap atau gas. Transpirasi merupakan proses keluar atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan yang berlangsung melalui bagian tubuh tumbuhan yang berhubungan langsung dengan udara luar ( luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan akar ). Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor – faktor  yang mampu merubah wujudair sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor – factor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Selain itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses transpirasi barlangsung juga ikut berperan.
Air dibutuhkan untuk bermacam-macam fungsi, diantaranya: sebagai pelarut dan medium reaksi kimia, medium untuk transport, zat pelarut organic dan anorganik, medium yang memberikan turgor pada sel tanaman, hidrasi dan netralisasi muatan pada molekul-molekul koloid, bahan baku fotosintesis, proses hidrolisis serta transpirasi umtuk mendinginkan permukaan tanaman (Franklin P. Gradner et all,1991). Air sangat berarti bagi Tanaman. Karena tanaman merupakan mahluk hidup yang bagi kita tidak terlihat seperti sebuah mahluk hidup karena ia tidak dapat bergerak. Dimana di dalamnya selalu terjadi proses-proses yang kasat mata, salah satunya adalah dimana terjadinya Proses penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi( Brittlate , 2007).
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata(Anonim, 2009). Proses transpirasi berlangsung selama tumbuhan tersebut hidup. Peneliti Utah State University berhasil menghitung berapa banyak jumlah air yang hilang melalui transpirasi pada tanaman jagung mulai dari berkecambah sampai panen. Jumlah iar yang hilang melalui transpirasi pada tanaman jagung adalah setara dengan total 450 mm curah hujan, atau untuk menghasilkan 1 kg berat kering tanaman jagung dibutuhkan 225 kg air yang hilang melalui transpirasi(Benyamin Lakitan, 1995).
Pada sayuran selada dapat diketahui  bahwa tumbuhan atau komoditas hortikultura cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin.
Pendinginan
adalah tindakan yang efektif untuk memperlambat laju transpirasi, dengan demikian pematangan dan pengeluaran panas juga dihambat. Keuntungan yang diperoleh dari penyimpanan dalam lemari pendingin adalah dapat mempertahankana mutu komoditas yang mudah rusak terutama komoditas hortikultura. Dengan penyimpanan pada ruangan pendingin atau kulkas Ternyata dapat mencegah terjadinya pembusukan.(Dwijoseputro, 1986).
Transpirasi memberikan gaya penggerak utama untuk penyerapan air pada tanaman sehingga dapat disebut sebagai pemicu kehilangan air. Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata,hal ini berarti bahwa air yang sedang berdifusi dari bagian dalam daun yang basah hampir menyamai air yang terbentuk di luar daun. Yang mengurangi landaian difusi dan karenanya mengurangi transpirasi. Apabila aliran udara (angin) menghembus udara lembap di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi air bersih dari daun juga akan meningkat(Jervis P.G, 1975). Menurut Jayamiharja (1977), Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi adalah:
1.Kelembaban
Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara.
Apabila stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar tergantung pada besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga-rongga antar sel dengan tekanan uap air di atmosfer. Jika tekanan uap air di udara rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar akan bertambah besar begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.
dengan kata lain, Semakin  besar kandungan air di udara, semakin tinggi Ψudara. Yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan meningkatnya kelembaban relative.
2.Suhu/Temperatur
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
Dengan kata lain peningkatan suhu akan meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan air yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar.
3.Cahaya/radiasimatahari
Radiasi matahari yang diserap oleh daun 1-5% digunakan untuk fotosintesis dan 75 – 85% digunakan untuk memanaskan daun dan untuk transpirasi. Peningkatan radiasi meningkatkan tuntutan atmosfer.
4.Angin
Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Terbentuk penghambat landaian difusi di sekitar stomata. Hal ini berarti bahwa air yang sedang berdifusi dari bagian dalam daun yang basah hampir menyamai air yang terbentuk di luar daun dimana akan mengurangi landaian difusi                                                (Franklin P. Gradner et all ,1991).
Kegiatan transpirasi itu sendiri terpengaruh oleh beberapa faktor yaitu  baik dari factor luar maupun faktor dalam. Yang terkait dengan factor dalam, adalah:Besar kecilnya daun, Tebal tipisnya daun, Berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, Banyak sedikitnya bulu di permukaan daun, Banyak sedikitnya stomata, Bentuk dan lokasi stomata. Semua  ini berhubungan dengan distribusi stomata, yang dimana Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval itu ada sangkut paut dengan intensitas pengeluaran air. Juga yang letaknya satu sama lain di perantaian oleh suatu juga jarak yang tertentu itu pun mempengaruhi intensitas penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu malah menghambat penguapan dari lubang yang berdekatan. Lalu membuka dan menutupnya stomata,  mekanisme membuka dan menutupnya stomata berdasarkan suatu perubahan turgor itu adalah akibat dari perubahan nilai osmosis dari isi sel-sel penutup. Serta banyaknya jumlah stomata, umunya pada daun tanaman budidaya yang produktif memiliki banyak stomata pada kedua sisi daunnya namun ada juga yang menybutkan bahwa pada tanaman darat seringkali dijumpai stomata yang terbanyak ada pada bagian bawah daun. Jumlah dan  ukuran stomata dipengaruhi oleh genotype dan lingkungan. Pada beberapa tanaman permukaan atas dari daun pun mempunyai stomata juga. Temperatur berpengaruh pada membuka dan menutupnya stomata. Pada banyak tanaman stoma tidak bersedia/tidak akan  membuka jika temperatur ada disekitar 0 derajat celcius. Semakin luas daerah permukaan daun , semakin besar transpirasi (Stern, 1965).
* Stoma (tunggal) atau mulut daun, sebagian besar transpirasi berlangsung di bagian ini.
Faktor-faktor luar yang mempengaruhi transpirasi:
*                  Sinarmatahari
Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma jadi banyak sinar mempercepat transpirasi
.
*                  Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain yaitu didalam hubungannya dengan tekanan uap air didalam daun dan tekanan uap air diluar daun, kenaikan temperatur menambah tekanan uap didalam daun.
*                  Kelembaban udara.
*                  Angin.
*                  Keadaan air didalam tanah
Kelebihan dari transpirasi untuk tanaman yaitu:
-          Mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembuluh xylem
-          Menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal
-          sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu (Anonym, 2009).
Disisi lain, Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati. Karena Transpirasi menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem(Wikipedia, 2008).


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Transpirasi. Klimatologi’sblog:www. WordPress.com.diakses tanggal 2 Januari 2009.
Brittlate. 2007. Sistem Transportasi & Transpirasi Pada Tanaman. ForumSains.com. diakses 2 juni 2009.
Dwidjoseputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada,          Jakarta.
Gradner P. Franklin,et all. 1991.Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta. Universitas  Indonsia press.
Jayamiharja, Joni B. Ahmad. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Fakultas   Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Jervis,P.G.1975.In Heat and Mass Transfer in The Biosphere, editor D.A. de Vries dan N.H. Afgan.Washington, D.C:Halsted.
Nenk.2008.Transpirasi.www.WordPress.com.diakses tanggal 2 Juni 2009.
Lakitan, Benyamin.1995. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo. Persada, Jakarta.
Salibury, F.B & Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 3. Diterjemahkan oleh Dyah, R. Lukman & Sumaryono. ITB, Bandung
Stern,W.R.1965.Agriculture.Res:Austria.
Sunu,Pratignja&Wartoyo.2006.Buku Ajar Dasar Hortikultura.Surakarta.Universits sebelas maret.









RESPIRASI



Respirasi metabolisme yang berlangsung didalam sel–sel tumbuhan hidup dengan memanfaatkan gula dan oksigen sebagai bahan bakunya. Dengan bantuan berbagai jenis enzim di mitokondria, molekul gula dioksidasi menjadi karbondioksida dan air serta energi melaluio serangkaian tahap biokimia. Berlangsung tidaknya proses respirasi dapat ditentukan dengan mengamati ada tidaknya uap air, karbondioksida dan energi yang dikeluarkan oleh sel tumbuhan hidup. Suatu sel, jaringan, organ atau tumbuhan utuh yang mengeluarkan karbondioksida, uap air dan energi dapat dipastikan melangsungkan respirasi. Laju respirasi dapat diketahui dengan mengukur banyaknya gas karbondioksida, uap air, dan energi yang dihasilkan. Semakin besar nilai komponen – komponen tersebut, maka semakin besar laju respirasinya.
Laju respirasi dapat diketahui dengan mengukur banyaknya gas karbondioksida, uap air, dan energi yang dihasilkan. Semakin besar nilai komponen – komponen tersebut, maka semakin besar laju respirasinya. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasiBerlangsung tidaknya proses respirasi dapat ditentukan dengan mengamati ada tidaknya uap air, karbondioksida dan energi yang dikeluarkan oleh sel tumbuhan hidup. Suatu sel, jaringan, organ atau tumbuhan utuh yang mengeluarkan karbondioksida, uap air dan energi dapat dipastikan melangsungkan respirasi (subhan Pradana, 2008).
Pada umunya, Komoditas sayuran setelah dipanen masih melakukan reaksi-reaksi metabolik dan mempertahankan sistem fisiologis seperti halnya pada saat komoditas tersebut masih menempel di pohonnya /sebelum dipanen (Syaifullah, 2001).  Produk Hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang telah dipanen masih merupakan benda hidup, seperti kalau belum dipanen atau masih di pohon. Benda  hidup disini dalam pengertian masih mengalami proses-proses yang menunjukkan kehidupanya yaitu proses metabolisme. Karena masih terjadi proses metabolisme tersebut maka produk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen akan mengalami perubahan-perubahan yang akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi kimiawinya serta mutu dari roduk tersebut. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti terjadinya respirasi yang berhubungan dengan pengambilan unsur oksigen dan pengeluaran cabon dioksida, serta penguapan uap air dari dalam produk tersebut, yang petama kita kenal dengan istilah respirai sedangkan yang kedua dikenal sebagai transpirasi (Pratignja Sunu dan  Wartoyo, 2006).
Mutu  simpan buah akan lebih bertahan lama jika laju respirasi rendah dan transpirasi dapat dicegah dengan meningkatkan kelembaban relatif dan menurunkan suhu udara. (Tranggono dan Sutardi, 1990). Respirasi adalah suatu proses oksidasi glukosa (perombakan) dalam sel hidup menjadi CO2, uap air dan energi. Dengan menggunakan enzim pada mitokondria, molekul gula dioksidasi menjadi air, karbondioksida, dan energi melalui reaksi biokimia. Berlangsung tidaknya proses ini dapat ditentukan dengan mengamati ada tidaknya uap air, karbondioksida, dan energi yang dikeluarkan oleh sel tumbuhan. Jaringan, sel, dan organ tumbuhan yang mengeluarkan tetes air, terjadi peningkatan volume udara, dan peningkatan suhu dapat dikatakan melangsungkan respirasi (Subhan Pradana, 2008) .
Laju dari proses respirasi dalam produk hortikultura akan menentukan daya tahan dari produk tersebut baik buah-buahan maupun sayur-sayuran yang telah dipanen, sehingga sering dijumpai ada produk yang tahan disimpan lama setelah dipanen seperti pada biji-bijian, umbi-umbian tetapi banyak pula setelah produk tersebut dipanen tidak tahan lama untuk disimpan, seperti pada produk buah-buahan yang berdaging maupun produk hortikultura yang lunak-lunak seperti sayur-sayuran daun. Agar proses metabolisme dalam suatu material hidup tersebut dapat belangsung terus maka diperlukan persediaan energi yang cukup atau terus menerus pula, dimana suplai energi tersebut diperoleh dari proses respirasi. Respirasi terjadi pada setiap makhluk hidup termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen, yang merupakan proses konversi exothermis dari energi potensial menjadi energi konetis. Secara umum proses respirasi dalam produk dapat dibedakan menjadi tiga tingkat yaitu: pertama pemecahan polisakarida menjadi gula sederhana; kedua oksidasi gula menjadi asam piruvat; serta yang ketiga adalah transformasi piruvat dan asam-asam organik lainnya menjadi CO, air, dan energi yang berlangsung (Pratignja Sunu dan  Wartoyo, 2006).
Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan adalah adanya proses respirasi pada buah tomat atau pun  sayuran yang lainnya setelah perlakuan pascapanen dengan adanya tetes air dan pengembangan plastic pada ruang pendingin. Pada buah tomat yang disimpan di ruang terbuka/ laboratorium terjadi peningkatan uap air yang sangat signifikan dan berakhir dengan pembusukan. Hal tersebut karena, karena perubahan-perubahan kimia dalam buah tomat dari pro-vitamin A menjadi vitamin A, pro-vitamin C-menjadi Vitamin C, dan dari karbohidrat menjadi gula, yang menghasilkan CO2, H2O, dan etilen. Akumulasi produk-produk respirasi inilah yang menyebabkan pembusukan (Nahda Kanara ,2009). Secara umum dapat dikatakan bahwa laju proses respirasi merupakan penanda atau sebagai ciri dari cepat tidaknya perubahan komposisi kimiawi dalam produk, dan hal tersebut behubungan dengan daya simpan produk hortikultura setelah panen. Laju atau besar kecilnya respirasi yang terjadi dalam produk hortikultura dapat diukur karena seperti kita ketahui bahwa respirasi secara umum terjadi kalau ada oksigen dengan hasil dikeluakannya carbon doiksida dari produk yang mengalami respirasi maka respirasi dapat diketahui dengan mengukur atau menentukan jumlah substrat yang hilang, O2   yang diserap, CO2 yang dikeluarkan, panas yang dihasilkan, serta energi yang ditimbulkannya. Respirasi juga menghasilkan air (H2O) tetapi dalam hal ini tidak diamati dalam prakteknya karena reaksi berlangsung dalam air sebagai medium, dan jumlah air yang dihasilkan reaksi yang sedikit tersebut “seperti setetes dalam air satu ember”. Energi yang dikeluarkan juga tidak ditenukan oleh karena berbagai bentuk energi yang dihasilkan tidak dapat diukur dengan hanya satu alat saja. Proses oksidasi biologis juga diikuti dengan terjadinya kenaikan suhu dan hal ini sebenarnya juga dapat dipergunakan sebagai penanda seberapa besar laju respirasi yang terjadi/bejalan. Tetapi karena antara keduanya tidak ada hubungan stoikiometrik maka perubahan suhu tidak dipergunakan sebagai penanda laju respirasi dalam produk hortikultura. Pengukuran kehilangan substrat, seperti yang terjadi adanya respirasi akan menyebabkan penurunan berat kering dari produk, tetapi ini mungkin sulit untuk dilakukan pengukuran karena adanya variasi dalam perubahan berat kering secara absolut; untuk itu diperlukan analisis kimia secara langsung. Kecepatan respirasi dari suatu produk hortikultura ternyata tidak selalu tetap tetapi bervariasi, dan variasi tersebut dapat dsebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah: 
a.   Faktor dalam
        Tingkat Perkembangan,
        Susunan Kimiawi Jaringan,
        Besar-kecilnya Komoditas.,
        Kulit Penutup Alamiah / Pelapis Alami.
        Type / Jenis dari Jaringan.
b.   Faktor Luar.
Laju respirasi selain dipengaruhi oleh faktor dari dalam juga sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada di luar produk tersebut dimana kedua faktor tesebut saling berineraksi apakah saling mendukung atau sebaliknya. Faktor-faktor dari luar tersebut adalah meliputi:
        Suhu. 
        Konsentrasi 02  dan C0 2 .
        Zat Pengatur Pertumbuhan..
        Kerusakan Produk (M.Apandi,1984).
Tenaga yang dilepaskan dalam respirasi digunakan untuk mensintesiskan molekul yang berperanan sebagai penyimpan kimia tenaga ini. Sebagian yang paling lazim digunakan ialah (ATP) dan tenaga kimia yang disimpannya boleh digunakan untuk berbagai proses yang memerlukan tenaga, termasuk atau pengangkutan molekul merentas .Disebabkan ciri merata ini, ATP juga dikenali sebagai "mata wang tenaga sejagat", kerana jumlah ATP dalam sel menunjukkan beberapa banyak tenaga yang sedia ada untuk proses memerlukan tenaga(www. Wikipedia.com, 2008).
Respirasi ini tidak dapat dihentikan namun bisa dihambat yaitu dengan menyimpannya pada suhu dan kelembaban rendah. Oelh karena itu, Upaya untuk memperpanjang waktu simpan produk hortikultura adalah dengan pewadahan /  yang baik. Dengan pewadahan ini diharapkan paling tidak dapat mengurangi terjadinya kerusakan karena terjadinya benturan sesama produk selama proses penyimpanan, selain juga dapat Penyimpanan suhu rendah dapat dilakukan secara sederhana dalam lemari es, namun di tempat ini kelembabannya tinggi. Mengingat barang-barang yang mudah menguap juga tersimpan di dalam lemari es proses respirasi buah tomat tidak dapat dihambat dengan sempurna. (Pratignja Sunu dan  Wartoyo, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Apandi, M. 1984. Teknologi Buah dan Sayur. Alumni. Bandung.
Benyamin, Lakitan. 1995. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Kanara,Nahda. 2009. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN BUAH TOMAT. www.NahdaKanara.blogspot.com. (dibuat ; 11 Maret 2009. Diakses; 19 Juni 2009)
Pradana,subhan. 2008. Respirasi .www.idebagus@indoskripsi.com.diakses: 2 juni 2009.
Salibury, F.B & Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 3. Diterjemahkan oleh Dyah, R. Lukman & Sumaryono. ITB, Bandung
Sunu Pratignja&Wartoyo. 2006.Buku  Ajar Dasar Hortikultura.Surakarta.Universitas sebelas maret.

Syaifullah. 2001.Kerusakan Sayuran di DKI Jakarta. bptp-jakarta@litbang.deptan.go.id.diakses: 2 juni 2009.
Tranggono dan Sutardi. 1990. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
www.wikipedia.com. 2008. Respirasi. diakses 2 juni 2009.





























PUPUK DAN PEMUPUKAN


Pertanian adalah salah satu bidang usaha manusia yang telah berkembang jauh sebelum peradaban manusia yang lain berkembang. Tanah merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini berarti segala macam tanaman akan menyerap dan memanfaatkan berbagai unsur hara yang terkandung dalam tanah dan lingkungannya untuk pertumbuhan dan perkembangannya sendiri agar dapat berproduksi maksimal dan produk-produknya dapat dimanfaatkan manusia.
Salah satu usaha pemeliharaan tanah ialah dengan cara pemupukan. Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah, karena berisi salah satu atau lebih unsur hara yang digunakan untuk menggantikan unsur yang telah habis karena terserap tanaman.atau pun hilang karena faktor-faktor tertentu. Tindakan pemupukan diartikan sebagai tindakan  menambah unsur hara ke dalam tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun) dengan tujuan untuk menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk peningkatan prosuksi dan mutu hasil tanaman.
Tanaman membutuhkan zat makanan  (unsur hara) dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Jika salah satu atau beberapa zat makanan (unsur hara) tidak berada dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya menjadi tidak normal dan produktivitasnya tidak optimal. Pupuk merupakan salah satu komponen penting untuk meningkatkan produktivitas. Penggunaan pupuk kimia (anorganik) merupakan salah satu pemicu terjadinya revolusi hijau (bidang pertanian) di dunia. Penggunaan pupuk kimia (urea, ZA, TSP, KCl, dll) di Indonesia mampu meningkatkan hasil pertanian. Namun tanpa disadari, penggunaan pupuk kimia secara terus menerus terbukti sangat merugikan. Pemakaian pupuk kimia dalam jangka waktu lama dapat merusak sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara, dan kehidupan mikroorganisme menurun.
Keadaan di atas sebenarnya tidak akan terjadi jika tanah mendapatkan perlakuan baik. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pupuk yang aman bagi tanaman dan tanah. Sebagai contoh dengan menggunakan jenis pupuk organik. Pemanfaatan pupuk organik mulai dilakukan petani di Indonesia seiring dengan pola hidup manusia yang cenderung ”back to nature”. Pemanfaatan produk organik semakin meningkat. Oleh karena itu pemakaian pupuk organik, termasuk pupuk organik cair, semakin digemari masyarakat.
Penggolongan pupuk tidak hanya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan seperti pupuk organik dan pupuk anorganik, tetapi juga dapat digolongkan berdasarkan cara aplikasi, bentuk, dan kandungan unsur haranya. Berdasarkan cara aplikasinya, pupuk dibedakan menjadi pupuk daun dan pupuk akar. Berdasarkan bentuknya, ada pupuk cair dan padat. Sedangkan berdasarkan kandungan unsur haranya terdapat pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terhisap tanaman. Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara ke dalam tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Pupuk akar merupakan macam pupuk yang diberikan ke tanaman melalui akar. Tujuannya agar tanah terisi dengan hara yang dibutuhkan tanaman dan dapat tumbuh subur sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal. Pupuk daun termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya melalui penyemprotan ke daun (Pinus Lingga, Marsono 2003).
Berdasarkan kandungan unsur haranya, pupuk digolongkan menjadi pupuk majemuk dan pupuk tunggal. Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara, demikian disebut pupuk campuran atau majemuk (Gaeswono, Soepardi 1983). Pupuk tunggal adalah pupuk yang tersusun atas senyawa-senyawa anorganik dengan kandungan unsur hara utamanya (hara makro) satu macam, misalnya nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).
Berdasarkan jumlah unsur hara, terdapat 2 macam pupuk. Yaitu:
1.      Pupuk tunggal.
Yaitu pupuk yang hanya mengandung satu hara tanaman, misalnya pupuk urea yang hanya mengandung hara N dan TSP hanya mengandung unsur P  saja.
2.      Pupuk majemuk/pupuk campur.
Yaitu pupuk yang mengandung 2 atau lebih unsur hara tanaman. Misalnya: NPK dll.
Menurut Sutejo (2002), pupuk NPK disebut sebagai pupuk majemuk lengkap atau complete fertilizer. Salah satu pupuk kimia yang beredar lebih banyak di pasar adalah pupuk pabrik. Pupuk kimia buatan tersebut dibuat dari bahan kimia dasar yang dibuat dalam pabrik, sehingga sifat dan karakter pupuk tersebut dapat diketahui dari hasil anlisis yang tercantum dalam setiap kemasannya (Marsono dan Paulus Sigit, 2001).
 Pupuk pabrik sukar diperoleh para petani karena harganya yang tinggi. Oleh karena itu untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan, petani dapat mencampur beberapa jenis pupuk. Pencampuran pupuk tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena beberapa pupuk akan menjadi rusak jika dicampur atau tidak dapat disimpan lama setelah pencampuran. Pencampuran pupuk yang baik dilakukan berdasarkan hasil analisis sesuai dengan kebutuhan kandungan unsur hara N, P, dan K yang dibutuhkan tanaman (Sutejo, 2007).
Jumlah kebutuhan pupuk tiap 1 ha lahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah pupuk =                 Dosis                                x 100 %
                             Kadar unsur dalam pupuk


Tujuan pembuatan pupuk campur adalah untuk mendapatkan pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara. Hal ini merupakan penghematan waktu, tenaga dan biaya. Dengan sekali pemberian pupuk, kita sudah dapat memasok 2 atau lebih hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pembuatan pupuk campur dengan suatu grade tertentu, biasanya jumlah pupuk yang dicampurkan tidak sesuai dengan pupuk campur yang diinginkan. Untuk itu, perlu bahan tambahan yang disebut pengisi (filler). Bahan yang dapat digunakan sebagai filler harus memenuhi syarat, yakni tidak higroskopis, tidak bereaksi dengan pupuk, dan dapat membantu dalam pemakaian pupuk  (Fandie dan Nasih, 2002).
Bahan pengisi atau filler yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu abu. Sebenarnya, selain abu juga dapat menggunakan pasir, serbuk gergaji, sekam padi atau kapur.  Tujuannya agar ratio kevtilizer dapat sesuai dengan keinginan serta agar mudah disebar secara merata.
Tidak semua pupuk dapat di campur, karena ada pula beberapa pupuk yang apabila di campur dapat menimbulkan kerugian, diantaranya sebagai berikut :
1.      pupuk Campuran memiliki higroskopisitas tinggi yang menyebabkan terjadinya penggumpalan sehingga sukar digunakan atau ditabur.
2.      Campuran kehilangan kendungan haranya ( N menguap sebagai NH3 )
3.      Terbentuk senyawa baru, sehingga hara menjadi tidak tersedia bagi tanaman.
            Pada aplikasi penggunaan perbandingan pupuk campur dapat digunakan untuk brbagai tanaman. Misalnya buncis. Pada tanaman buncis perbandingan yang digunakan adalah 1:2:1, Yaitu pupuk ZA, SP 36 dan KCl. Hal ini merupakan perbandingan yang paling sesuai pada budidaya tanaman buncis dan bertujuan untuk dapat menghasilkan produksi yang optimal. Caranya adalah pengolahan tanah cukup dicangkul atau dibajak, kemudian dibuat bedengan kasar dengan lebar 100cm dan panjang nya disesuaikan dengan lahan. Benih dapat langsung ditanam dengan menggunakan 2-3 benih perlubang tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 40 cm. kebutuhan benih perhektar kurang lebih 15 kg, ketika mulai tumbuh dan menjalar bisa diberikanb ajir kayu dari bilah bambu yang ditncapkan disampingnya. Bersamaan dengan pemupukan yang terdiri dari ZA, SP36 dan KCl dengan perbandingan 1:2:1 sebanyak 5 gram, tanah ditugal didekat batang tanaman nya kemudian pupuk di sebar dan ditutup tanah dengan cara menaikkan tanah diantara dua bedengan.sehingga pupouk tertimbun dan bedengan lebih tingi dan sempurna. Pemupukan selanjutnya diberikan setiap 1 / 2 minggu sekali ( Pranowo, 2007 ).
Contoh lainnya untuk aplikasi penggunaan pupuk campuran ialah tanaman petsai ( Brassica chinensis L. ) dan tanaman tabu . untuk Tanaman petsai  merupakan tanaman aemusim atau dua musim. Petsai banyak ditanam pada daerah pegunungan, yang dataran nya dapat lebih dari 1000 m dari permukaan laut. Sayuran ini tumbuh dengan baik dan membentuk krop pada suhu 12-22°C dan pada tanah yang subur yakni yang mengandung  banyak bahan organik serta dengan pH 6 – 7,5. Langkah awal dari penanaman petsai  ialah pilih lahan yang bukan bekas  tanaman kubis –kubisan. Sisa tanaman dikumpulkan lalu dikubur dan tanah di cangkul sampai gembur. Kemudian dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak tanam 40 cm – 50 cm ( antar barisan ). Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran menggunakan kaptan dengan dosis 1,5 ton/ha dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk kandang sapi ton /ha, pupuk jerami padi padi 18 ton/ha. Pupuk buatan yang digunaka ZA 250 kg, SP36 250 kg dan KCl 200 kg/ha ( Setiawati et all, 2007 ).
Untuk tanaman tebu kebutuhan harany6a dipenuhi dengan memberikan pupuk anorganik (kimia) yang diberikan ke dalam tanah. Hasil yang optimum didapat dengan menggunakan pupuk mixed 1400 kg/ha ditambah urea 150 kg/ha dan ZA 200 kg/ha ( Arifin dan Prahardini, 2007 ).
Namun secara umum pupuk hanya dibagi dalam dua kelompok berdasarkan asalnya, yaitu :
1.    Pupuk anorganik seperti urea (pupuk N, TSP, atau SP-36 (pupuk P), KCl (Pupuk K), serta
2.    Pupuk organik seperti pupuk kandang kompos, humus, dan pupuk hijau (Pinus Lingga, Marsono, 2003).
Pupuk anorganik adalah pupuk yang berasal dari bahan mineral yang telah diubah melalui proses produksi sehingga menjadi senyawa kimia yang mudah diserap tanaman. Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari makhluk hidup yang telah mati, seperti sisa tumbuhan, kotoran hewan, daun yang berjatuhan, limbah rumah tangga, dan sebagainya (Ayub S Parnata, 2004).
Fungsi utama pupuk adalah menyediakan atau menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Ayub S Pranata, 2004) sehingga paling tidak ada 14 unsur hara esensial yang diperoleh tanaman dari tanah (Goeswono Soepardi,1983). Pupuk adalah setiap bahan yang diberikan ke dalam tanah atau lahan yang disemprotkan atau disebar atau ditugal dengan tujuan :
a.    Dapat mengatur berbagai sifat tanah.
b.    Sebagai penyangga persediaan unsur-unsur hara bagi tanaman.
c.    Memperbaiki struktur tanah.
Berdasarkan kandungan unsur haranya, pupuk dibagi menjadi pupuk tunggal (single fertilizer) dan pupuk majemuk (compound fertilizer). Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung satu macam unsur hara, sedangkan pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara. pupuk dibagi menjadi dua macam, yaitu pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam merupakan pupuk yang tidak dibuat di pabrik serta dicirikan dengan kelarutan unsur haranya yang rendah di dalam tanah. Biasanya penggunaan pupuk ini ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Meskipun unsur hara rendah akan tetapi bila sifat fisik telah diperbaiki maka sifat kimianya dapat berubah. Pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat di pabrik  yang umumnya memiliki kandungan unsur hara dan kelarutan yang tinggi. Pupuk ini berfungsi untuk memperbaiki sifat kimia tanah, contohnya urea, TSP, DAP, dll. Ir. Mul Mulyani S (1992) menyatakan berdasarkan kelarutannya, pupuk diberi simbol untuk : yang larut dalam air (+), yang larut dalam asam sitrat (=), dan yang larut dalam asam keras (x) 
Pada pengujian kelarutan pupuk dengan menggunakan air yang disimbolkan dengan (+). Untuk pupuk ZA (+++++) yang berarti sangat larut, urea (++++) yang berarti larut, KCl (+++) yang berarti agak larut, organik/Buto Ijo (++) yang berarti kurang larut, dan SP20 (+) yang berarti sangat kurang larut/sulit larut.
Kelarutan menunjukkan mudah tidaknya pupuk larut dalam air. Hal ini juga berarti mudah tidaknya unsur yang dikandung dalam pupuk diserap oleh tanaman. Kelarutan juga menunjukkan cepat atau lambatnya pupuk yang hilang karena tercuci. Kelarutan penting, sebab selalu diserap tanaman dalam bentuk ion-ion. Semakin tinggi kelarutan suatu pupuk, maka semakin mudah pula pupuk tersebut diserap oleh tanaman. Pupuk yang mengandung N dan K mudah sekali larut dalam air.
Pengukuran tingkat higroskopisitas terhadap lima macam pupuk (pupuk urea, KCl, SP20, organik buto ijo, dan ijo) dilakukan dengan cara mengambil satu sendok pupuk dan dimasukkan dalam cawan petridis yang telah dialasi dengan kertas HVS. Pupuk tersebut disimpan dalam ruangan dengan suhu kamar. Higroskopisitas pupuk urea adalah (+++++) artinya bersifat sangat higroskopis, KCl (++++) artinya higroskopis, ZA (+++) artinya agak higroskopis, pupuk organik buto ijo (++) artinya kurang higroskopis, dan SP20 (+) yang berarti sangat kurang higroskopis.
Higroskopisitas adalah kemampuan pupuk dalam menyerap air yang ada dalam udara. Pupuk dengan higroskopisitas yang kurang baik perlu penyimpanan yang baik karena mudah menjadi basah atau mencair bila tidak tertutup. Pupuk biasanya akan mulai menyerap air dari lingkungannya pada suhu kamar dan kelembaban nisbi sekitar 50% dan di Indonesia mempunyai kelembaban rata-rata 80% sehingga pada suhu ruang pupuk akan mencair. Untuk mengurangi tingkat higroskopisitas, pupuk dibuat dalam butiran-butiran sehingga luas permukaan pupuk menjadi berkurang. Sebaliknya jika pupuk disimpan pada tempat atau lingkungan kering, maka pupuk akan menjadi bongkah yang keras (Heru Priantoro, 2008).
Pupuk dapat bereaksi fisiologis masam, netral, atau alkalis. Pupuk yang bersifat masam dapat menurunkan pH tanah yang akan menyebabkan tanah menjadi lebih masam. Sedangkan pupuk yang bersifat alkalis dapat menaikkan pH tanah sehingga tanah bersifat lebih basa. Pengukuran pH terhadap lima jenis pupuk tersebut menunjukkan bahwa kelima jenis pupuk tersebut memiliki pH yang mendekati  netral. Pupuk urea memiliki pH 5,5; KCl = 6; SP20 = 6; pupuk organik = 5,5 dan ZA = 5.



DAFTAR PUSTAKA


Afandie Rosmarkam dan Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius:Yogyakarta.
Bachtiar Rifai dan Soeroto Sosroedirdjo.Ilmu Memupuk.Yasaguna:Jakarta.
Gaeswono, Soepardi. 1983. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana: Bandung.
Heru. 2008. Kesuburan Tanah. (on-line)http://www. Heru.Blogspot.com. Diakses tanggal 22 April 2009.
Lingga, Pinus. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya : Jakarta.
Marsono dan Paulus Sigit.2001.Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasinya.Swadaya:Jakarta.
Musnamar,Effi Ismawati.2005.Pupuk Organik:Cair dan Padat,Pembuatan dan Aplikasi.Swadaya:Jakarta.
Pinus Lingga dan Marsono.2002.PetunjukPenggunaan Pupuk.Swadaya:Jakarta.
Plant Cane dan Ratoon Cane di Yogyakarta.Balai Pengkajian teknologi Pertanian Jawa Timur.(7):1-7.
Pranata, Ayub. S. 2004. Pupuk Organik Cair : Aplikasi dan Manfaatnya. Agromedia Pustaka: Jakarta.
Pranata, Ayub .S.2005.Pupuk Organik Cair:Aplikasi dan Manfaatnya.Agromedia Pustaka:Jakarta.
Pranowo, Tri.2007.Saatnya Bertanam Buncis Lebat- online.Http://www.tanindo.com/abadi10/hal 1001.htm.diakses pada 22 April 2009.
Rinsema,W.T.1986.Pupuk dan Cara Memupuk.Bhatara Karya Aksara:Jakarta.
Sarrief, E.Saifuddin.1986.Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian.Pusataka Buana:Bandung
Sutejo, Mul Mulyani. 1992. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta: Jakarta.

W,Setiawati,dkk.2007.Panen Petsai Jangan Terlalu Tua Jangan Terlalu Muda.Balai Penelitian Sayuran.(2):1-2.
Z,Arifin dan Prahardini.2007.Pengaruh Efektifitas Pupuk Organik Mixed-G pada Tanaman Tebu